Rally Emas Penuh Lika – Liku

Emas terlempar dari rekor tertingginya pasca rally kencang sepanjang 2010. Membaiknya parameter perekonomian Amerika Serikat berhasil memupus pesimisme  terhadap prospek pemulihan global. Meski demikian, penurunan hanya bersifat koreksi temporer. Outlook Dollar, krisis hutang zona Euro dan tekanan inflasi tinggi akan menjaga kesinambungan tren bullish. Prospek logam mulia masih terbilang cerah walau perjalanan rally takkan semulus harapan.

Menyambut tahun baru, investor dihadiahi hasil positif dari beberapa indikator ekonomi Amerika Serikat (AS). Optimisme menyeruak karena sektor swasta mulai merekrut tenaga kerja, pesanan pabrik terus meningkat dan angka penjualan ritel kian membaik. Indeks manufaktur bahkan mencatat kenaikan terbesar dalam tujuh bulan terakhir. Tidak hanya itu, laporan keuangan perusahaan besar juga cukup bagus. Adalah Alcoa, JP Morgan, Intel, eBay, dan Apple yang baru saja mencetak perlehan data cemerlang.

Bagaimanapun juga, euforia terhadap performa ekonomi AS sepertinya terlalu berlebihan. Mengingat beberapa mesin penggerak ekonomi Paman Sam belum berfungsi normal seperti masa pra – krisis keuangan. Sektor manufaktur memang membaik, namun gejala perbaikan belum tampak pada tingkat konsumsi. Padahal sektor ini memberi kontribusi 70% bagi perekonomian negara. Demikian pula dengan penjualan rumah yang masih lesu, tingkat pengangguran yang tetap tinggi serta anjloknya sentimen konsumen di tengah tekanan inflasi. impinan Federal Reserve Bank, Ben S. Bernanke, memang optimis bahwa ekonomi AS dapat tumbuh 3% hingga 4% di 2011, namun level tersebut belum cukup untuk mengikis tingkat pengangguran. Responden yang disurvei Bloomberg yakin bahwa the Fed tidak akan menaikan suku bunga hingga kuartal perdana 2012, meski analis telah merevisi naik pertumbuhan AS jadi 3,1%. Selama bank sentral tetap melaksanakan program pembelian obligasi dan menahan bunga di level rendah, maka outlook Dollar masih aka lemah. Jika skenario ini terbukti, prospek emas belum segera pudar.

Di lain pihak, krisis hutang Eropa urung memburuk berkat antisipasi European Central Bank (ECB) melalui pembelian surat hutang pemerintah zona Euro. Jepang dan China turut berkomitmen mengoleksi obligasi Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (ESFS), sedangkan Rusia sedang mempertimbangkan hal serupa. Adapun Portugal, yang diprediksi segera meminta bail out, giat mendekati Otoritas Investasi Abu Dhabi dalam upaya investasi di surat hutangnya. Spanyol dan Belgia bahkan mulai kerjasama dengan investasi perbankan loka untuk menegaskan paa dunia bahwa kndisi sektor ini baik – baik saja. Pasar kini berharap pada perkembangan proposal dana ekstra ESFS yang diajukan Kmisioner Eropa, Olli Rehn. Apabila jumlah dana ESFS tidak ditambah, maka kepercayaan invstor terhadap kemampuan Eropa  bisa luntur.

Tekanan Inflasi Global

Sementara itu, tekanan inflasi global konsisten naik, searah dengan lonjakan harga komoditas. Selain di AS, inflasi Eropa juga masih bertengger dekat target kisaran versi ECB. Inflasi Inggris bahkan tebang ke 3,7%, makin menjauh dari sasaran Bank of England. Pun demikian dengan indeks harga konsumen emerging market, China, yang kokoh di level tinggi 4,6%. Tekanan inflasi kian mencemaskan karena permintaan komoditas dari negara berkembang seperti China, India dan Brazil tidak pernah surut. Namun volume suplai diprediksi stagnan, menyusul bencana banjir yang melanda eksportir hasil bumi terbesar di dunia, Australia. Begitu pula dengan OPEC, yang enggan memompa lebih banyak minyak ke pasar.

Belum ada tanda pengetatan moneter dari bank sentral AS dan Inggris. Kedua otoritas meyakini tingkat suku bunga masih kondusif bagi pemulihan ekonomi. Hanya Peopleis Bank of China (PBOC) yang mengawali tahun dengan kenaikan suku bunga dan pengetatan rasio cadagan perbankan Tetapi langkah itu tetap terbilang longgar jika berkaca pada pertumbuhan ekonominya yang mencapai 9,8%. Rangkaian indikator di atas tentu menjadi bahan pertimbangan investor untuk melarikan diri ke instrumen anti-inflasi terbaik.

Permintaan Fisik

Jika menyangkut permintaan emas berbentuk fisik, China selalu bisa diandalkan. Liberalisasi perdagangan di akhir 2010 berakibat pada lonjakan impor loga mulia ke dalam negeri tirai bambu Lion Fund Management, lembaga berlisensi PBOC, sudah mengumpulkan dana investor ETF berbasis emas hingga senilai 3,2 miliar yuan. Sementara World Gold Council memprediksi volume impor konsumen utama dunia, India, akan menembus rekor 800 metrik ton di 2010. Perth Mint, produsen asal Australia yang memproduksi 6% output emas global, melaporkan bahwa demand jusru makin kuat meski harga belum menjauh dari $1400.

Outlook emas masih cemerlang meski rally berlanjut di tengah berlanjutnya pemulihan ekonomi global Credit Suisse memperkirakan harga teratas emas 2011 sebesar $1490. Barclays melihat kisaran $1460 hingga $1485 sebagai target jangka menengah. Sementara estimasi harga logam ulia versi HSBC tahun ini adalah $1450 per ons.

Sumber : Zulfirman Basir

Comment Back Myspace Comments

Thank You Myspace Comments


2 responses to “Rally Emas Penuh Lika – Liku

  1. blog bagus Teh Neng, khusus mengupas emas sbg sarana investasi. Sangat menarik. Tapi, ngomong-ngomong, kalo namanya Teh Neneng mestinya orang Bandung atuh, bukan wong Yogya. Ok, sukses selalu ya.

    Like

    • makasih kang didin..emang saya org bandung🙂 cuman dah lama tinggal djogja..
      yaah…saya cuman pengen bebagi aja soal apa yang pernag saya dapet mengenai investasi emas..mudah2an bermanfaat buat yang memaca..buat kang didin juga…akasih sdah berkunjung🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s