Gold Outlook – Sinyal Era Kejayaan Baru

Setelah mengawali tahun dengan koreksi cukup tajam, emas kembali pulih bulan lalu. Investor melanjutkan pemburuan emas seiring langkah penyuntikkan stimulus oleh The Fed. Beberapa faktor pendukung, seperti krisis hutang zona Euro, tekanan inflasi tinggi serta ketegangan politik di Afrika Utara dan Timur Tengah turut memperkuat pesona emas. Sebagai sarana pelindung nilai aset utama, outlook emas tetap cemerlang dalam beberapa waktu mendatang.

Kebijakan Moneter AS

Aktivitas ekonomi Amerika Serikat (AS) terus membai akhir – akhir ini, setelah berbagai indikator ekonomi menunjukkan ekspansi. Mulai dari sektor manufaktur, jasa, order pabrik hingga angka konstruksi perumahan. Sentimen konsumen ikut naik dan perusahaan cukup optimis merekrut lebih banya tenaga kerja. Perekonomian Pama Sam bahkan mencatat pertumbhan GDP 3,2% di kuartal terakhir 2010.

Meski tingkat pengangguran AS turun ke level 9% pada bulan Februari, Federal Reserve memandang level tersebut masih cukup tinggi. Bank sentral menyatakan bahwa negara butuh masa pemulihan lima tahun untuk mengembalikan kondisi ekonomi ke titik normal (pra – krisis subprime mortgage). Atas alasan itu pula, The Fed tidak berencana mengurangi program pembelian obligasi. Meski demikian, momentum perbaikan juga sedang terancam oleh rencana pemangkasan anggaran belanja pemeintah. Presiden Barrack Obama telah mengajukan proposal penghematan sebanyak $1,1 triliun dalam 10 tahun mendatang. Pemotongan defisit secara sinifikan sama dengan pengurangan stimulus fiskal bagi perekonomian, sehingga pemulihan AS sepertinya hanya bisa bergantung pada simulus the Fed. Selama pelonggaran moneter ini berlangsung, maka prospek US dollar akan lemah dan emas justru berbalik cerah.

Masalah Klasik Zona Euro

Di lain pihak, kecemasan terhadap krisis hutang Eurozone kembali muncul ke permukaan. Pasar tampak skeptis dengan kemampuan petinggi  Uni Eropa (EU) dalam upaya penyelesaian masalah secara cepat dan efektif. Meski EU sepakat untuk menambah jumlah Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (ESFS), terdapat perbedaan tentang implementasi ideal di mata beberapa negara anggota. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Portugal kembali melejit di tengah pesimisme investor terhadap kemampuan bayar negara tersebut. Menurut laporan Reuters, EU meyakini Lisbon akan mengajukan bail out pada bulan april nanti. Filipe Silva, mengatakan Portugal tidak akan kesulitan melelang obligasinya hingga KTT Uni Eropa (23-24 Maret), namun situasi bisa berubah setelah event KTT dihelat. Tidak hanya itu, investor juga harus mewaspadai isu pendanaan perbankan Eropa. Pada pertengahan Februari, Bank Sentral Eropa (ECB) mencatat lonjakkan pinjaman dana darurat overnight hingga mencapai 16 miliar euro (tertinggi sejak Juni 2009). Potret suram tersebut bisa menggiring pelaku pasar ke aset dengan daya perlindungan lebih optimal.

Tekanan Inflasi Global

Sementara itu, tekanan inflasi kian menyebar seiring tingginya harga komoditas. Setelah minyak melejit ke level tertinggi dalam 2 tahun terakhir, kapas dan tembaga turut mencatat rekor harga baru. Buruknya cuaca telah memangkas produksi pangan global. Tidak heran, indeks harga makanan dunia yang dirilis United Nations Food & Agriculture Organization langsung mencetak rekor termahal sepanjang masa pada bulan Januari. Virus inflasi sontak membayangi beberapa negara besar di dunia, seperti terlihat dari indeks harga produsen inti AS bulan Januari yang mencatat kenaikan tertinggi sejak Oktober 2008, yakni sebesar 0,5%. Sementara indeks harga konsumen China meningkat 4,9%, adapun inflasi zona Euro sudah menembus 2,4% atau melewati target ECB (2%). Situasi Ingris bahkan lebih kronis karena tingkat inflasi di sana telah menembus 4%, dua kali lipat target Bank of England.

Akan tetapi, pemangku kebijakan moneter negara maju tampak bersikap tenang. Baik Be Bernanke maupun anggota dewan moneter ECB, semua masih yakin mampu menjinakkan inflasi. Mervyn King dari bank sentral Inggris juga masih alergi menaikkan suku bunga acuan. Hanya People’s Bank of China yang telah menyesuaikan tingkat suku bunga dan giro wajib minimum perbankan, tapi kebijakan itu belum cukup untuk meredam inflasi. Apalagi pertumbuhan ekonomi negara ini sudah mencapai 9,8% pada kuartal terakhir 2010.

Konflik Tmur Tengah dan Afrika

Pergerakan politik di negara Mesir dan Tunisia menjadi inspirasi hadirnya aksi serupa di wilayah Arab. Ribuan demonstran turun ke jalanan ibukota Bahrain, Libya, Yaman, Djibouti, Kuwait, Oman, dan Iran dalam beberapa pekan terakhir. Ratusan korban jiwa mulai berjatuhan akibat bentrok antara militer dan massa anti-pemerintah. Situasi kian diperburuk oleh lesunya aktifitas ekonomi dan pasar finansial di kawasan regional. Berkaca pada realita terkini, sulit berharap investor bisa bersikap agresif dalam mengelola portoflionya. Aset ‘asuransi’ condong menjadi pilihan hingga semua benar – benar terang.

Kepemilikan saham Exchange-Traded Funds (ETF) berbasis emas mulai berkurang, namun sentimen investasi masih cerah. Data yang dirilis Februari menunjukan bahwa George Soros menambah kepemilikan SPDR Gold Trust sebanyak 0,5% pada kuartal IV 2010. Eton Park Capital Management, hedge funds yag didirikan Eric Mindich, bakan menambah put options SPDR Gold Trust sebanyak 5 juta lembar saham. JP Morgan Chase, mengikuti jejak CME Group dan Intercontinental Exchange, dengan menerima emas sebagai jaminan untuk trading. Clearinghouse terbesar di Eropa, LCH. Clearnet Group dan London Metal Exchange juga sedang mengkaji penggunaan emas sebagai jaminan.

Comment Back Myspace Comments

Thank You Myspace Comments


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s