GROSS DOMESTIC PRODUCT (GDP)

GDP, kata ini lazim didengar, dibaca serta menjadi komponen makro ekonomi yang dapat menggambarkan keakmuran suatu negara. Sebagai induk dari semua indikator ekonomi, data GDP patut dipahami oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia bisnis dan investasi. Lebih jauh lagi, pemerintah dan ekonom memakai angka GDP sebagai barometer keberhasilan dari suatu kebijakan moneter. Secara sederhana, GDP atau Produk Domestik Bruto adalah jumlah total nilai produksi barang dan jasa suatu negara pada periode tertentu. Semua komponen produk masuk ke dalam perhitungan, termasuk barang dan jasa yang dijual di luar negeri serta produk ekspor. Bahkan barang yang tidak laku terjual juga dimasukkan sebagai objek pengukuran, karena sebelumnya telah melalui proses produksi.

Sebagai contoh, kami menggunakan data statistik pertumbuhan GDP  China. Selama kurun waktu lebih dari 20 tahun, aktifitas bisnis di negara tersebut mencatat pertumbuhan spektakuler. Meski sempat mengalami resesi pada tahun 1997, ekonomi China masih terlihat positif. Pesatnya laju roda ekonomi berbanding lurus dengan perluasan lapangan kerja. Daya serap SDM yang baik pada akhirnya akan meningkatkan konsumsi dan belanja rumah tangga. Dampak dari rilis angka GDP juga sangat berpengaruh besar terhadap stimulasi bisnis lintas negara, mengingat pasar domestik turut diramaikan oleh produk impor, mulai dari otomotif sampai makanan. Korelasi inilah yang nantinya akan berperan besar dalam revitalisasi ekonomi global. Kemudian, apakah kondisi siklus pertumbuhan seperti ini bisa berlanjut selamanya? Secara teori, asumsi tersebut bisa terjadi.

Namun dalam dunia ekonomi, rapor apik suatu negara sangat rentan penurunan akibat tekanan dari negara luar. Penyebabnya bisa bervariasi, seperti ketegangan politik, volatilitas nilai tukar mata uang maupun kelebihan persediaan dalam negeri yang rawan memicu inflasi tinggi. Akan tetapi, biasanya setiap negara sudah memiliki perencanaan dalam merespon skenario ekonomi terburuk.

Perhatikan konsep siklus ekonomi dalam model pertumbuhan dan resesi oleh Joseph Schumpeter (8 Februari 1883 – 8 Januari 1950) sebagai berikut :

Terdapat dua fase pada model tersebut, yaitu above dan below. Menurut Schumpeter, saat penerapan sistem dan regulasi disesuaikan dengan kepercayaan konsumen yang tinggi, maka ekonomi akan mengalami pertumbuhan (Upswing phase).

Sebaliknya pada masa-masa sulit, resesi tidak terhindarkan saat garis mengarah turun hingga ke bawah inflection point. Garis Equilibrium menandakan periode awal dan berfungsi sebagai tolak ukur pertumbuhan dan penurunan. Selaku  regulator, kesulitan terbesar bagi negara adalah menciptakan iklim positif untuk menstimulasi tingkat sentimen masyarakat. Di kala situasi semakin memburuk, maka pintu gerbang depresi kian terbuka lebar. Chaos! Istilah ini bisa mendeskripsikan kejatuhan ekonomi seperti yang terjadi di awal 1930 dan 1980-an.

Perlu diketahui bahwa laporan GDP umumnya dibagi ke dalam 2 kategori pengukuran. Pertama, pengukuran memakai nilai nominal mata uang dan yang kedua adalah pengukuran dalam bentuk nilai riil nilai uang saat ini. Pada konsep pertama, pengukuran nilai total seluruh barang dan jasa produksi dalam negeri memakai nominal harga aktual. Sedangkan konsep dengan menggunakan nilai riil uang, hanya mengukur total produksi barang fisik, tanpa melibatkan jasa.

Sebagai contoh, sebuah pabrik konveksi mengumumkan penjualan tahun ini sebesar $1 juta, atau 11% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Namun ada sesuatu yang hilang dari data ini karena tidak dijelaskan bagaimana angka tersebut bisa tercapai. Apakah memang dalam kenyataannya pihak pabrik menjuat 11% potong pakaian lebih banyak? Atau mereka membuat pakaian dalam kuantitas tertentu, tetapi harga pasar naik sebanyak 11% saat penjualan terjadi? Jika perusahaan mencatat angka penjualan mengacu pada kenaikan harga pasar 11%, maka total penjualan riil seharusnya adalah $900riby, bukan $1 juta. Perbedaan antara pertumbuhan ekonomi akibat kenaikan jumlah barang terjual dengan dipicu oleh peningkatan harga karena inflasi sangatlah vital. Idealnya pertumbuhan riil berlandaskan pada output ekonomi, artinya suplai baang dan jasa memang benar-benar naik dan tersedia. Pertumbuhan angka GDP riil merefleksikan peningkatan pada taraf hidup masyarakat. Sementara di sisi lain, laju inflasi akan tergerak naik hingga mengikis daya beli uang terhadap barang dan jasa.

Sumber : Azhar Fauzi Noor ; FM Monthly Magazine 51th edition

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s