Bangun Strategi Dengan CHART PATTERN

Kalau kita amati grafik harga (instrumen apapun) dengan seksama, kita akan melihat suatu pola atau bentuk. Grafik harga yang terlihat mencerminkan hasil suplai dan permintaan yang cukup berimbang membuat harga  bergerak dalam area konsolidasi dan membentuk suatu pola. Sementara tren merupakan hasil dari ketidakseimbangan suplai dan permintaan. Jika suplai lebih banyak dari permintaan tentu harga bergerak turun, dan begitu pula sebaliknya.

Pola grafik (chart pattern) dapat menentukan kemana arah pergerakan harga selanjutnya. Setelah fase konsolidasi berakhir, harga akan membentuk suatu tren. Kemudian setelah tren usai, harga akan kembali memasuki fase konsolidasi dan begitu seterusnya.

Agar kita dpat melihat pola-pola yang terbentuk pada grafik, kita padatkan grafik tersebut (zoom out) untuk mendapat sebuah gambaran yang utuh. Seteah itu, kita pergunakan alat atau tool trendline untuk menggambar garis-garis pada sekmpulan batang harga sehingga terlihat pola yang terbentuk.

Pola harga ini merupakan hasil pengamatan dari para pelaku pasar selama bertahun-tahun. Pola harga selalu berulang dan acapkali menunjukkan reaksi yang serupa, meskipun performa di masa lalu tidak menjamin keberhasilan performa di masa depan.

Beberapa pola harga yang memiliki tingkat keberhasilan cukup tinggi dalam memprediksi arah pergerakan, antara lain : Head and Shoulders, Double Top/Bottom, Tripple Top/Bottom, Symmetrical Triangle, Ascending/Descending Triangle, Channel Pattern, Flat Base Pattern, Flah and Pennant, Wedge Formation, Cup and Handle dan Parabolic Curve.

Dalam membangun strategi trading dengan menggunakan pola harga, hal yang haus dipahami adalah pola dinyatakan valid hanya jika telah terjadi breakout dari pola tersebut. Artinya harga telah bergerak keluar dari area konsolidasi dan melanjutkan pergerakan ke arah tertentu. Karena harus menunggu breakout, kita baru masuk posisi atau menempatkan pesanan di sekitar area breakout.

Pola Head and Shoulders 

Pola ini adalahpola reversal dan terbentuk ketika harga dalam tren naik. Ketika pola ini mulai terlihat, maka arah berpotensi untuk turun. Saat tren kenaikkan harga mulai melemah, harga bergerak turun dan membentuk left shoulder (bahu kiri). Namun buyer masuk kembal (area neckline/leher) dan harga kembali naik membentuk level tertinggi baru (head/kepala). Harga dengan cepat bergerak turun kembali menguji area neckline dan ternyata masih ada buyer yang menunggu. Kemudian harga rebound tapi tidak berhasil mencapai level tertinggi sebelumnya dan membentuk right shoulder/bahu kanan.

Potensi penurunan juga terlihat dari indikasi bearish divergence pada RSI periode 14. Dimana saat harga membentuk level tinggi baru, RSI tidak mengikuti dan justru turun.

Setelah pola ini terkonfirmasi dari neckline ke head, lalu kita proyeksikan dari bawah titik breakout (L1=L2).

Kebalikkan dari pola ini dinamakan dengan inverse head and shoulders. Pola ini terbentuk saat hargadalam tren turun dan berpotensi melakukan reversal naik.

Pola Double Top / Bottom

Pola Double Top / Bottom juga merupakan pola reversal. Pola Double Top terlihat saat tren harga mulai berbalik turun, dan sebaliknya pola Double Bottom terlihat saat harga berbalik naik.

Pada pola Double Bottom yang membentuk seperti huruf W : Harga sedang bergerk turun namun kelihatannya tenaga turunya mulai berkurang, buyer mulai masuk dan harga rebound sehingga membentuk bottom 1 (B1). Karena tekanan turun belum benar-benar habis, harga kembali terkoreksi dan membentuk bottom 2 (B2). Seller mulai berkurang drastis dan buyer meningkat sehingga harga kembali naik dari B2 menembus area neckline.

RSI periode 14 yang menunjukkan arah naik dan indikasi bullish convergence sejak tanggal 14 Mei mendukung indikasi penguatan harga. Potensi target diukur dari panjang neckline ke area bottom lalu kita proyeksikan ke atas dari titik breakout (L1=L2).

Kebalikan dari pola ini adalah pola Double Top yang menunjukan potensi pembalikan ke arah bawah. Di samping itu, kita juga mengenal pola Triple Top dan Triple Bottom. Pola ini sama dengan pola Double Top dan Double Bottom. Kalau pola Double Top/Bottom membentuk dua puncak dengan tinggi yang hampir sama, maka pola Triple Top/Bottom membentuk tiga puncak.

Demikian bahasan mengenai beberapa pola yang memiliki probabilitas tinggi. Probabilitas bukan berarti 100% tepat. Oleh karena itu kita harus selalu memperhitungkan resiko setiap kita membuka posisi. Pada tulisan berikutnya kita akan membahas beberapa pola lagi yang juga sering muncul pada grafik kita.

Sumber :FM Magazine ; Ariston Tjendra, Head of Research and Analyst Monex

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s