Kunci Trading : Money Management

money management

Banyak faktor ang mempengaruhi kesuksesan dalam trading, mulai dari modal yang cukup, perencanaan yang baik, strategi trading yang mumpuni hingga kemampuan untuk menjaga emosi dan bersikap disiplin. Namun ada satu komponen yang tidak boleh dilupakan oleh seorang trader, yaitu money management.

Mari kita fokus ke Money Management. Strategi Trading yang bagus tidak otomatis menghasilkan profit yang konsisten tanpa diseertai penerapan Money Management yang baik. Sebaliknya dengan money management yang baik, profit konsisten masih bisa didapat walaupun hanya memakai strategi trading dengan tingkat profitabilitas yang rendah.

Misalnya kita menggunakan strategi trading yang tingkat profitabilitasnya hanya 40% dengan rata – rata keuntungan setiap trading sebesar $300. Berarti untuk mendapatkan profit yang konsisten, kita harus membatasi kerugian. Berapa rata – rata kerugian yang harus kita batasi ? Untuk mengetahuinya, kita dapat menggunakan prhitungan sebagai berikut : = ( Profitabilitas strategi trading x Rata – rata profit ) / Presentase kerugian strategi trading = (40% x $300 ) / 60% = $200

Berdasarkan perhitungan diatas, maka kita harus membatasi kerugian di bawah $200 per transaksi dengan strategi trading yang kita buat, untuk dapat menghasilkan profit konsisten dalam jangka panjang.

Dengan membatasi kerugian, kita masih memiliki modal yang cukup untuk membalikkan kerugian tadi menjadi keuntungan. Kita tetap bisa mencari peluang di kesempatan yang lain. Menurut pengalaman trader kenamaan Larry Hite, sebagaimana diceritakan dalam buku ‘Market Wizards’ karya Jack Schwager, seorang trader lebih baik tidak mengambil resiko lebih dari 1% dari total equity-nya dalam satu kali transaksi. Dengan pendekatan ini, seorang trader dapat mengalami kerugian beruntun sebanyak 20 kali tapi masih mempunyai 80% equity untuk mengambil peluang di kemudian hari. Beberapa trader memberikan range risiko antara 1-5% dari total equity.

Kita bisa menarik kesimpulan bahwa inti dari money management adalah menjaga ketahanan modal dengan meminimalisasi risiko dan memaksimalkan keuntungan. Dengan membatasi risiko, berarti kita harus benar-benar merencanakan aktivitas trading kita. Dimana level pembukaan posisi, dimana
penempatan stop-loss dan target profit termasuk memastikan apakah stop-loss sudah sesuai dengan batasan resiko yang kita tentukan. Sebelum membuka posisi, kita harus menghitung apakah tingkat resiko dari rencana trading tersebut sesuai dengan batasan risiko yang telah kita buat sebelumnya. Bila tidak, kita harus melewatkan kesempatan itu dan mengambil peluang di lain
waktu.

Kalau kita berbicara tentang cara membatasi resiko, maka artinya kita harus menggunakan stop-loss dalam setiap trading. Ada berbagai cara untuk menerapkan stop-loss antara lain dengan:

1. Stop dengan Equity

Anda bisa menempatkan stop loss order berdasarkan persentase penurunan total equity. Bagi trader konservatif, persentase bisa ditetapkan sebesar 1% atau maksimum 5% dari total equity.
Contoh: anda memiliki total dana $10.000 dalam account. Kemudian tetapkan stop loss order 2% dari $10.000. Jadi apabila dana anda berkurang menjadi $9800, maka trading langsung berhenti saat itu juga.

2. Stop dengan Grafik 

Dengan mengacu pada grafik, anda tidak memasang stop loss order berdasarkan titik harga tertentu dengan besaran nilai stop loss yang sama. Penempatan stop loss mempertimbangkan titik harga yang diberikan oleh analisa grafik. Stop loss ini bersifat dinamis, contoh: anda bisa memasang stop loss order berdasarkan level Fibonacci, level support atau resistance. Terlihat divergence pada indikator MACD, perpotongan garis-garis MA dan sebagainya.

3. Stop dengan Margin

Sebenarnya stop dengan margin ini bukanlah stop loss order, namun membiarkan seluruh dana yang anda miliki dalam account membatasi kerugian trading. Bila anda memiliki sisa margin $1000 di dalam account, maka trading akan terhenti saat $1000 habis atau terkena margin call. Stop jenis ini mencerminkan ketidakdisiplinan trader yang melakukan trading berdasarkan harapan semata.

4. Stop dengan Data/Kejadian Penting

Lazimnya, stop jenis ini dilakukan oleh trader yang sangat mengerti fundamental ekonomi dan mampu memahami pengaruh suatu data/kejadian terhadap pergerakan mata uang atau indeks saham ke depannya. Contoh: pengaruh krisis hutang di Eropa akan mendepresiasi nilai Euro terhadap Dollar AS. Trader akan melakukan sell EURUSD dan menentukan stop jika ada konfirmasi, pernyataan atau tindakan dari otoritas terkait bahwa Eropa sudah aman dari krisis tersebut.

Selain harus meminimalisasi risiko, kita juga dapat berusaha memaksimalkan keuntungan dengan money management dengan penggunaan trailing stop. Dengan trailing stop ini, kita bisa menjaga keuntungan yang telah diperoleh, sehingga tidak berbalik menjadi kerugian. Bila kita mempunyai posisi beli, kita naikkan secara perlahan stop loss order yang telah kita pasang sesuai dengan kondisi profit yang telah didapat dari posisi beli kita. Dengan demikian stop loss order itu tidak lagi menjadi pembatas kerugian tetapi beralih fungsi menjadi pengunci profit.

Money management akan berhasil dengan baik bila kita melakukannya dengan disiplin. Hanya dengan latihan secara terus menerus, kedisiplinan bisa menjadi bagian dari aktivitas trading kita.

Sumber : Ariston Tjendra ; FM Magazine 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s