Exit Management

WIn LogoSeperti halnya manajemen modal, likuidasi transaksi memeerlukan pengelolaan tersendiri serta dipercaya sebagai salah satu komponen sistem trading yang mandiri. Sinyal entry yang baik dapat berakhir dengan kerugian apabila tanpa  disertai pengelolaan “exit” yang baik juga. Sebaliknya, sinyal entry yang buruk sekalipun dapat memperrsembahkan keuntungan pada anda selama disertai pengelolaan likuidasi yang cermat.

Tanpa pengelolaan Exit, seluruh manajemen modal dan resiko yang sudah anda pelajari dengan teliti tidak akanbisa diaplikasikan. Exit atau likuidasi posisi adalah tindakan atau perintah menutup posisi terbuka untuk merealisasikan target keuntungan. Tindakan ini juga dapat membatasi jumlah kerugian dalam setiap transaksi.

Exit atau likuidasi posisi dalam trading secara umum terbagi ke dalam 2 kategori, yaitu :

  • Stop Loss, yaitu menutup posisi beli dibawah harga masuk atau menutup posisi jual di atas harga masuk yang ditetapkan untuk membatasi jumlah kerugian transaksi.
  • Take Profit, yaitu menutup posisi belidi atas harga masuk ataumenutup posisi jual di bawah harga masuk, yang dipakai untuk merealisasikan keuntungan transaksi.

Likuidasi posisi, baik Stop Loass maupun Take Profit, dapat diambil berdasarkan presentase tertentu dari total ekuiti atau berdasarkan marjin yang digunakan. Presentase yang paling umum dipakai adalah 2% dan 5%, tergantung karakter individu dan jumlah modal awal. Tentunya anda tidak harus mengikuti dua contoh angka presentase di atas. Berapa persen kerugian dari ekuiti yang dapat anda tolerir? Berapa persen juga tingkat keuntungan?

Pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah mengenai batas kerugian. Asumsikan batasan kerugian adalah 5%, maka keuntungan dapat dengan mudah Anda tetapkan minimal 2 kali lebih besar dari angka resiko. Misalnya ekuiti awal berjumlah $10,000, maka exit dalam akan terealisasi ketika kerugian mencapai $500 atau keuntungan mencapai $1,000. Dari perspektif manajemen resiko, penggunaan 5% ($500 secara konstan) akan membuat Anda mampu bertahan hingga 20 kali kesalahan telak yang terjadi secara beruntun. Seandainya diterapkan sebesar 5% dari kondisi ekuiti terakhir, maka dibutuhkan 45 kali kesalahan beruntun untuk menyingkirkan Anda dari kursi trading. Jika dalam 20 transaksi Anda merugi berturut turut, maka Anda hanya memerlukan 11 kali keuntungan untuk meraih BEP. Namun bagaimana jika sistem trading menghasilkan akurasi 40:60? Asumsikan saja dari 50 transaksi, jumlah kerugian dan keuntungan masing-masing sebanyak 25 kali. Maka di akhir transaksi, keuntungan yang diraih adalah sekitar $30,000.

Exit/ Likuidasi berdasarkan Teknikal Alat analisa teknikal memberi banyak sekali input tentang exit posisi yang disesuaikan dengan pergerakan harga. Penentuan exit jenis ini adalah yang paling direkomendasikan oleh trader profesional. Secara umum, penggunaannya dapat ditentukan berdasarkan indikator atau oscillator tertentu, atau dapat juga dilakukan hanya dengan mengamati grafik.

exit 1 Gambar 1

Cross moving average ke arah berlawanan atau Oscillator yang telah mencapai area ekstrim adalah contoh penggunaan indikator teknikal dalam penentuan likuidasi  dan stop loss. Gambar 1 memberi ilustrasi tentang penempatan exit pada sinyal yang berlawanan, menggunakan crossover MA. Setelah mengambil posisi sell pada saat perpotongan pertama, seseorang dapat exit pada perpotongan kedua.

Namun demikian, Anda perlu berhati-hati jika hanya mengandalkan indikator sebagai alat likuidasi satu satunya. Mengingat indikator pada umumnya bergerak terlambat dan minim dengan informasi stop loss. Tanpa indikator, grafik sendiri sudah cukup kaya dengan informasi, yang dapat dipakai sebagai informasi tambahan dalam pengelolaan exit. Trader dapat menentukan titik stop loss berdasarkan observasi terhadap grafik, misalnya dengan menggunakan area tertinggi atau terendah baru saja.

Harga tertinggi yang terdapat di grafik merupakan cermin kekuatan jual yang mampu menahan harga naik lebih jauh. Demikian juga harga terendah yang merefleksikan buying power, yang cukup kuat untuk menopang harga dari penurunan lebih lanjut. Penentuan stop loss berdasarkan konsep ini saja sudah cukup beralasan.

exit2 Gambar 2

Seperti diilustrasikan pada gambar 2, trader yang mengambil posisi sell pada breakout pertama dapat menempatkan stop loss pada level tertinggi sebelumnya. Karena penempatan stop secara teknikal dilakukan berdasarkan pergerakan pasar yang dinamis, maka penyesuaian level exit pun diperlukan. Hal ini dapat di laksanakan melalui penggunaan trailing stop.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s