Menguak Kebijakan Belanja Emas Bank Sentral

WIn LogoSejak pertama kali ditemukan, Emas telah menjadi suatu alat ukur untuk menilai kekayaan. Semua orang dari berbagai bangsa dan latar belakang budaya ingin memilikinya. Kilau emas bukan hanya sebuah magnet bagi penyuka perhiasan namun lebih dari itu, keberadaannya mewakili status dan kemampuan. Di zaman moderen seperti sekarang, konsumen logam mulia bahkan tidak hanya berasal dari individu dan perusahaan. Bank Sentral negara maju sudah mengambil peran sentral sebagai penggerak harga.

Jutaan ton emas telah digali dari perut bumi, namun nilai jualnya tidak kunjung surut selama berabad-abad. Saat perekonomian dunia memasuki era perang mata uang, emas menjadi alat tukar yang aktif ditransaksikan. Beberapa orang membeli emas karena krisis di zona euro dan sebagian lainnya justru melepas posisinya. Sekarang tidak semua investor menyimpan logam mulia karena pertimbangan inflasi , karena telah muncul alasan moderen yaitu “terlalu banyak hutang di negara maju”. Seperti diketahui, beberapa negara anggota zona Euro tengah berusaha untuk mengurangi beban hutangnya dengan berbagai langkah penghematan. Sementara di waktu yang sama, Amerika Serikat, Inggris dan Jepang cenderung memilih untuk mencetak uang baru. Dalam situasi seperti ini, emas kemungkinan besar mampu mengukir performa terbaiknya hingga beberapa tahun ke depan.

Jadi mengapa tidak memilih emas dalam sebuah keputusan investasi? Panentuan produk investasi tidak bisa lepas dari cara pandang investor terhadap potensi keuntungan dan skala toleransinya terhadap resiko. Serupa dengan investasi saham, penanaman modal   ke dalam produk mata uang dan emas juga beresiko. Banyak pihak meyakini bahwa perang mata uang dapat tertangani namun tren penurunan suku bunga dan resiko ekonomi membuat emas masih dipandang sebagai aset yang lebih baik ketimbang valuta asing. Mungkin pertimbangan itu pula yang dipikirkan oleh pemerintah China saat memborong emas dalam jumlah fantastis secara terus menerus.

Menurut laporan Reuteurs, volume impor emas China bulan Maret melonjak hingga dua kali lipat ke level tertingginya dalam sejarah. Satu-satunya negara yang membeli emas lebih banyak ketimbang negara tirai bambu adalah India. Aliran volume bersih emas dari Hongkong ke China tercatat naik dari 97.106 Ton (Februari) menjadi 223.519 Ton di bulan Maret 2013 sekaligus melewati rekor sebelumnya di 114.372 Ton (Desember 2012).

volume impor emas dr china ke hongkong

Belum genap dua kuartal terlewati, jumlah ekspor emas dari Hongkong ke China sudah mencapai lebih dari separuh total ekspor tahun 2012 yang sebesar 557.448 ton. Pesanan emas bahkan membengkak lagi april lalu saat penurunan harga emas internasional memicu hiruk pikuk pembelian di pasar Asia. Hal ini menyebabkan Singapura dan Hongkong kekurangan stok emas batangan dan koin. Jumlah tersebut belum termasuk volume pembelian emas tambahan, karena sudah bukan rahasia lagi kalau China dan India kerap memesan emas secara diam-diam di pasar gelap.

Mengapa China berambisi memegang emas dalam jumlah besar?

Terdapat beberapa faktor yang bisa melatar belakangi kebijakan tersebut, antara lain:

  1. China telah mengalami perjalanan sejarah yang bergejolak. Sejak era kepemimpinan Mao Zedong, China mengalami lompatan sosial budaya jauh ke depan. Perekonomiannya juga melaju dengan pesat meskipun belakangan ini cenderung melambat. PDB resmi adalah sebesar 7.7% (di bawah ekspektasi 8.0%), tetapi Producer Price Index menunjukkan penurunan harga sebesar 1.9% di bulan maret dan tarif listrik menghambat kenaikkan GDP riil. Barangkali potret instabilitas ekonomi tersebut yang membuat pemerintah dan otoritas gemar mengoleksi emas. Saat ini harga logam mulia mungkin naik atau turun terhadap Dollar maupun Yuan namun pada akhirnya emas tetap akan menjadi aset yang layak disimpan. Terutama di tengah aktivitas cetak uang bank-bank sentral yang bisa diibaratkan sebagai penghancuran nilai uang kertas.
  2. China sadar dengan posisinya sebagai calon pemain dominan di percaturan ekonomi dunia. Mereka ingin status mata uang Yuan atau Renminbi menjadi sama dengan Dollar AS, Euro dan Yen. Tetapi masalahnya adalah China tidak memiliki cukup emas untuk mendukung mata uangnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank sentral China, People’s Bank of China (PBOC) harus mendapatkan lebih banyak emas dan itulah yang sedang mereka lakukan sekarang.

world official gold reserves

Sumber : Azhar Fauzi Noor ; FM Magazine, June 2013 Edition

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s