Tinjauan Semester I : ‘Emas sang Pecundang’

Setelah harganya konsisten melonjak selama 12 tahun terakhir, emas berbalik melemah di semester I 2013. Sangat terbuka peluang bagi logam mulia ini untuk kali pertama menutup tahun pada level lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Di antara sekian banyak aset yang beredar di pasar, investor emas menjadi pihak yang paling dirugikan dalam dua triwulan terakhir. Khusus bagi pemilik modal pada aset emas fisik dan exchange-traded products (ETP), bisa dipastikan nilai asetnya berkurang drastis dalam hitungan bulan. Sementara untuk pelaku transaksi berjangka, laba ruginya masih bisa tergantung pada pengambilan peluang dari posisi short-sell. Fasilitas inilah yang tidak bisa dimanfaatkan oleh investor di pasar transaksi lainnya.

Pada kuartal I 2013, harga emas anjlok ke bawah $1200 per ons untuk kali pertama dalam tiga tahun terakhir. Bukannya membaik, penurunan harganya justru semakin parah di triwulan II. Harga emas merosot lebih dari $400 sepanjang periode April-Juni sekaligus menandai koreksi kuartalan sekitar 25% dan mengakhiri paruh perdana 2013 dengan total penurunan mencapai 28%.

Jika bicara tentang performa harga emas maka pokok pembahasan tidak bisa lepas dari volume penempatan modal di aset ETP. Sebagai indikator minat investasi emas global, volume pengelolaan aset di ETP dapat mencerminkan sentimen pelaku pasar dalam kurun waktu tertentu. Sepanjang semester I, jumlah aset emas dalam portofolio kelolaan exchange-traded funds (ETF) anjlok lebih dari 20%. Total dana yang ditarik investor tercatat sekitar $9 miliar pada kuartal I dan disusul dengan penarikan aset sebesar $19 miliar di kuartal II. Dulu saat volume aset komoditi ETP lainnya melemah drastis di tengah krisis finansial 2008, emas masih solid menjalankan perannya sebagai produk lindung nilai. Namun kini korelasi harga antara komoditi umum dan emas tidak demikian lagi. Sebagai perbandingan, saham berbasis material alam di indeks saham S&P 500 hanya tergerus 1.7% di paruh pertama atau jauh lebih rendah dibandingkan rasio koreksi saham-saham produsen emas. Saham Goldcorp dan Yamana Gold, dua emiten penting di sektor logam mulia, masing-masing melemah 34% dan 45% atau bahkan lebih tinggi dibandingkan rasio penurunan emas fisik yang tidak sampai 30%.

Menurut lembaga pemantau jumlah aset, ETF Securities, penurunan harga emas sebagian besar dipengaruhi oleh trend kenaikan suku bunga riil di Amerika Serikat. Meskipun suku bunga acuan konsisten dipatok dekat nol persen, suku bunga riil (tingkat suku bunga yang diperhitungkan dengan ekspektasi inflasi) sudah meningkat sejak akhir tahun lalu. Kombinasi antara tingkat inflasi Amerika Serikat yang masih rendah dan trend kenaikan suku bunga riil inilah yang dipandang sebagai faktor utama penurunan minat beli logam mulia. “Fenomena itu berbarengan dengan penguatan nilai tukar Dollar sehingga secara taktis, lingkungan investasi seperti sekarang adalah mimpi buruk bagi emas,” demikian pendapat Nick Brooks, Kepala Divisi Riset ETF Securities. Suku bunga riil sudah sejak akhir 2011 berada dalam teritori negatif. Namun indikator ini secara perlahan berbalik positif di kuartal II lalu, mencerminkan turunnya ekspektasi laju inflasi Amerika dan kenaikan pada imbal hasil obligasi Amerika tenor 10 tahun.

Berbaliknya sentimen di pasar direspon oleh investor dengan cara menarik aset-aset emas dari simpanan ETP. Laju penarikan aset tahun ini bahkan menjadi yang tercepat sejak pasar aset logam mulia ini diresmikan sekitar satu dasawarsa lalu. Puncak ketakutan investor tergambar pada dua hari perdagangan di bulan April, di mana harga emas sempat anjlok 13% atau $200 dalam satu sesi transaksi ETP. Pengamat finansial mengukur skala keresahan investor emas dari penarikan dana investor hedge-fund, khususnya mereka yang berinvestasi di perusahaan ETF Amerika Serikat.

Sekitar 90% aksi jual pada bulan April lalu terjadi di pasar ETP Amerika Utara, terutama SPDR Gold ETF. Pengelolaan aset emas di ETP berkontribusi 60% terhadap total transaksi emas dunia. Terlebih lagi, sebagian pemilik aset ETP merupakan investor kelas kakap dengan jumlah pengelolaan cukup besar. “Keluarnya investor besar dari GLD kemungkinan menjadi alasan di balik penurunan harga dramatis pada 12 dan 15 April lalu,” tambah Brooks dalam sebuah wawancara.

Bagi investor emas retail, penurunan harga emas sepanjang tahun ini tentu mengejutkan karena tidak pernah terjadi dalam satu dekade ke belakang. Akan tetapi, ‘penderitaan’ terbesar justru diderita oleh pemilik modal konglomerat yang selama ini rajin menimbun emas baik dalam bentuk fisik maupun ETP. Klien di perusahaan milik miliarder John Paulson telah mengalami kerugian mencapai total $317 juta hanya di kuartal II 2013. Tingkat kerugian Paulson pribadi di AngloGold Ashanti bahkan diprediksi lebih masif karena ia memiliki posisi sebesar $2 miliar sebelum triwulan II berjalan.

Terlepas dari kinerja buruk emas dalam beberapa bulan terakhir, masih banyak pihak yang meyakini bahwa logam mulia ini adalah portofolio aset yang harus dimiliki oleh setiap investor. Status safe haven atau lindung nilai emas belum sepenuhnya pudar karena iklim perbaikan ekonomi membaik dan pada akhirnya nanti akan berujung pada lonjakan inflasi. Kebijakan cetak uang akan berpengaruh terhadap harga-harga dan bisa kembali menaikkan daya tarik emas. Namun di sisi lain juga ada skenario yang bisa memperburuk prospek harga dalam dua tahun ke depan. Potensi penarikan stimulus moneter Amerika terbuka lebar tahun ini, dan hanya akan semakin memperkuat nilai tukar Dollar yang sekarang sudah tergolong kuat. Jika stimulus jadi ditarik, Dollar kian kuat dan harga beli emas bertambah mahal, maka bukan mustahil periode buruk semester I kembali terulang di suatu waktu.

sumber

20130724-135025.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s