PENGARUH CUACA DAN IKLIM TERHADAP PASAR KEUANGAN GLOBAL

Seorang trader yang baik selalu mempertimbangkan berbagai faktor yang berperan dalam pergerakkan harga produk investasinya. Tidak hanya dari sisi fundamental harga dan grafik teknikal. Faktor eksternal juga patut diperhatikan termasuk perubahan musim dan kondisi cuaca. Mengingat dalam sejarahnya, dinamika alam kerap mempengaruhi peta perdagangan di pasar keuangan.

Otoritas pemantau iklim dan cuaca Amerika Seerikat (AS) pada tanggal 10 April lalu memperkirakan datangnya musim badai di tahun 2013, dengan kekuatan rata – rata di atas normal. Dalam pengumuman resminya, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyatakan :

“Sesuai dengan hasil riset dan perkiraan dari Colorado State University (CSU), cuaca musim ini diprediksi hiperaktif dengan kedatangan 18 badai, 9 angin topan dan 4 badai besar. Dalam laporannya, lembaga ini menyatakan bahwa suhu permukaan laut berada di atas rata – rata. Sebelum mencapai puncak musim badai, akan terjadi peningkattan aktivitas badai tropis. Peluang badai besar untuk menghantam Gulf Coast dan East Coast jauh di atas rata – rata, sedangkan kemungkinan badai besar menerjang sepanjang garis pantai Amerika Serikat juga berada di atas estimasi rata – rata.”

Dalam kajian ekonomi sebuah wilayah atau negara, bencana alam berupa badai, banjir, angin kencang dan hujan deras rentan menyisakan dampak kerusakkan terhadap lokasi strategis dan aset pribadi. Titik – titik kekhancuran meliputi banyak tempat sepperti fasilitas produksi energi, kilang minyak, rumah, perkantoran bisnis hingga lokasi wisata. Di Amerika Serikat, kerusakkan yang ditimbulkan pasca Badai Sandy bisa kembali dialami oleh warga New Orleans, Florida dan sepanjang Gulf Coast apabila badai Rita dan Katrina benar – benar datang dalam skala yang lebih masif. Efek dari badai kuat di AS ini memicu efek/gelombang ekonomi ke seluruh dunia.

Dampak ekonomi yang paling jelas terlihat adalah semakin mahalnya biaya rekonstruksi fisik disertai lonjakkan harga gas dan tagihan alat pemanas rumah tangga akibat kenaikkan harga minyak. Pelaku pasar keuangan hanya perlu melihat kembali apa yang terjadi sesaat setelah Katrina, Rita atau Sandy pergi untuk memahami bagaimana terbentuknya gejolak harga energi di AS dan imbasnya terhadap perekonomian global. Berikut ini adalah grafik perbandingan harga bahan bakar minyak AS, WTI dan Brent disertai pergolakkan harganya pada saat resesi global dan bencana badai melanda :

pengaruh cuaca dan iklim

Berbeda dengan ilmuwan atau masyarakat awam, seorang trader seharusnya mengajukkan pertanyaan out-of-the-box saat suatu bencana melanda.

“Peluang transaksi apa yang muncul ketika badai menerjang?” Tentu saja pertanyaan ini diajukan tanpa bermaksud mencari kesempatan dari bencana yang dialami oleh negara lain.

Badai AS memiliki efek jangka pendek, menengah maupun panjang terhadap kinerja pasar keuangan. Adapun produk – produk yang lazimnya terpengaruh oleh dinamika cuaca di antaranya adalah sektor berbasis energi (minyak mentah, minyak pemanas dan gas alam), ekuitas (perumahan dan konstruksi) dan suku bunga (termasuk obligasi pemerintah dan suku bunga KPR) serta produk mata uang berjangka dan pasar forex. Bahkan untuk komponen hasil bumi seperti logam (tembaga dan baja), pasar pertaniandan komoditas lunak (kayu), efek bencana alam terhadap harga akan terus terasa selama enam hingga delapan belas bulan ke depan atau ketika musim topan atlantik dimulai.

Di tengah pergolakkan harga energi pasca badai, muncul peluang pengambilan posisi pada komoditi yang terkait dengan energi alternatif seperti jagung. Negara AS adalah eksportir jagung terbesar di dunia, di mana hasil tani ini menjadi bahan utama dalam pembuatan minyak etanol. Harga energi yang lebih tinggi sama artinya dengan harga etanol yang lebih mahal. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa badai besar yang parah dapat dengan cepat menciptakan fase bullish dalam industri jagung.

Musim badai yang detruktif juga bisa berujung pada meningkatnya jumlah pinjaman AS, karena pemerintah berkepentingan untuk menyalurkan bantuan ke wilayah yang terkena dampak bencana alam. Defisit negara akan membengkak dan jumlah pinjaman modal ikut melonjak sehingga membuka peluang kenaikkan suku bunga dan inflasi tinggi. Apabila skenario ini yang terjadi, maka nilai tukar Dollar AS akan jadi semakin mahal. Penguatan kurs Dollar hanya akan mengurangi daya saing ekspor AS dan membuka pintu persaingan antar negara di sektor produksi yang sama seperti otomotif, peralatan berat dan teknologi. Lini perumahan dan industri konstruksi AS juga akan mencetak ‘hit’ dalam hal pemasukkan ketika salah satu badai super menerpa pesisir timur atau pantai teluk. Saham kontraktor dan REITs bisa mewakili peluang besar yang bisa diraih investor dari sektor konstruksi indeks Dow Jones.

Sejak Tahun 2005, eskalasi angin topan di AS makin kuat dan dahsyat setiap tahunnya. Apa yang ditimbulkan oleh badai Sandy beberapa waktu lalu dapat menggambarkan betapa sebuah fenomena alam dapat menciptakan kehancuran yang luar biasa, baik jika diukur dari skala kerusakkan maupun luasnya wilayah bencana. Musim badai dahsyat yang berlangsung pada tahun 2005 bahkan menyebabkan  kerugian senilai total $79 miliar. Industri asuransi jelas dibebani tanggung jawab besar untuk menuntaskan klaim nasabah. Maka wajar apabila saham – saham asuransi dan penjaminan menjadi tidak atraktif pasca gelombang bencana alam melanda suatu negara.

Dampak materiil dari kedatangan musim badai tidak hanya menyerang inti perekonomian AS, namun juga menyebar dalam skala global. Dana yang dihabiskan untuk memperbaiki atau membangun kembali infrastruktur yang porak – poranda akan berdampak pada peningkatan harga komoditas terkait. Penyaluran bantuan uang dari pemerintah pusat ke wilayah yang terkena bencana akan menguras kas negara dan memicu peminjaman dana segar. Siklus tersebut mempengaruhi stabilitas nilai tukar Dollar karena bank sentral terpaksa menaikkan suku bunga. Pada titik inilah efek dari suatu peristiwa alam benar – benar menular secara global. Meskipun selalu menimbulkan riak di dalam industri komoditas, logam, pertanian, energi dan dinamika suku bunga, faktor cuaca juga menciptakan peluang baru bagi investor di seluruh dunia.

Sumber : Azhar Fauzi Noor; FM Magazine 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s