Paul Tudor Jones “The Macro Trader”

Terjun di belantara Wall Street bukanlah perkara mudah karena butuh keahlian, intuisi tajam dan keberuntungan. Siapa yang kuat, dia yang akan bertahan. Salah satu dari sedikit trader yang berhasil menembus rimba Wall Street dan mempertahankan reputasinya adalah Paul Tudor Jones II. Berkat insting dan kerja keras selama lebih dari tiga dekade, sang trader veteran diakui sebagai salah satu tokoh dengan pundi-pundi kekayaan terbanyak sejagad. Pria kelahiran 28 September 1954 ini tercatat sebagai pendiri Tudor Investment Corporation, sebuah perusahaan induk yang membawahi beberapa perusahaan investasi swasta lainnya. Buah kesuksesan Paul Tudor Jones dalam menaklukkan kerasnya dunia trading terekam pada Maret 2011, saat namanya terukir di urutan
107 orang terkaya Amerika Serikat (AS) versi majalah Forbes dan berada di urutan ke 336 dalam daftar figur terkaya sedunia dengan estimasi kekayaan hingga US$3.3 miliar.

0688f0d

Menamatkan sekolah dasar dari Presbyterian Day School dan sekolah menengah dari Memphis University School, Jones lalu hijrah ke kota Virginia untuk melanjutkan studinya di University of Virginia.  Di sini ia berhasil menyabet gelar
sarjana ekonomi di tahun 1976 dan memenangkan sebuah kejuaran tinju kelas welter di tahun yang sama. Kesuksesan tidak semudah membalik telapak tangan, Jones muda mulai membangun mimpi dengan menjadi juru ketik di lantai bursa hingga perlahan ia dipercaya menjadi broker untuk E.F. Hutton. Tahun 1980, ia mencoba peruntungannya dengan menjadi broker independen. Selama dua setengah tahun aliran dana mengalir deras, namun di saat ia berada di puncak kejayaan fase jenuh mulai datang. Ia memutuskan untuk kembali kuliah dan mengikuti tes di Harvard Business School. Belum sempat kakinya menyentuh lantai Harvard, otak kanannya bekerja. “Ini gila, untuk apa saya berada di sini. Mereka tidak akan mengajari saya sesuatu. Keterampilan yang saya miliki tidak diajarkan di sekolah  bisnis,” pikirnya kala itu.

Sepupu Jones, William Dunavant Jr, pemilik Dunavant Enterprises yang tercatat sebagai salah satu perusahaan pedagang kapas terbesar dunia, menyarankan Jones untuk menyambangi seorang broker komoditi di New Orleans, Eli Tullis.
Di tangan Tullis, intuisi bisnis pria kelahiran Memphis, Tennessee ini kian terasah. Tullis merekrutnya sekaligus menjadi mentor bagi Jones dalam perdagangan kontrak kapas di New York Cotton Exchange. Jones melukiskan seorang Eli dengan ungkapan: “Dia [Eli Tullis] adalah orang paling tangguh yang pernah saya kenal. Dia mengajarkan bahwa trading itu sangat kompetitif dan kamu harus dapat bertahan jika tidak ingin ditendang. Bagaimanapun keterlibatan emosi tidak dapat dihindari.”

Setelah merasa mampu berdikari, Jones mendirikan Tudor Investment Corporation, sebuah perusahaan manajemen aset yang bermarkas di Greenwich, Connecticut. Sub bisnisnya mencakup perusahaan-perusahaan lain seperti The Tudor Group, Tudor Investment Corporation dan unit afiliasi yang  terlibat dalam perdagangan aktif, investasi dan riset saham global, modal usaha, hutang, mata uang serta pasar komoditi. Jones mematok harga tinggi bagi perusahaan-perusahaan yang berada di bawah manajemen hedge fund-nya. Jika
perusahaan lain hanya mengenakan biaya 2% per tahun plus 20% dari laba, maka di bawah asuhannya anak usaha wajib menyisihkan 4% per tahun dan ‘komisi’ 23% dari laba usaha. Itulah jumlah yang harus dibayar oleh eksekutif korporasi yang ingin merasakan tangan dingin sang trader kawakan. Perusahaan yang digawanginya mengelola dana hingga $17.7 miliar hingga 1 Juni
2007. Pengelolaan investasinya pun sangat luas dan beragam, termasuk perdagangan makro global, ekuiti fundamental di AS dan Eropa, pasar berkembang, modal usaha, komoditi, strategi pengendali pasar dan sistem perdagangan teknikal. Bersama koleganya Hunt Taylor, Jones berperan dalam menciptakan FINEX, salah satu divisi kontrak berjangka di New York Board of Trade, dan terlibat dalam pengembangan kontrak berjangka indeks dollar di sana. Ia juga menjabat sebagai ketua dari New York Cotton Exchange dari bulan Agustus 1992 hingga Juni 1995.

Satu momen dalam karir Jones yang monumental adalah kesuksesannya dalam memprediksi peristiwa Black Monday pada tahun 1987. Jones meraup keuntungan hingga tiga kali lipat dengan melepas sebagian besar sahamnya saat itu. Pria yang menikahi seorang supermodel Australia ini juga pernah memangku jabatan sebagai direktur Futures Industry Association serta berperan dalam proses kreasi dan pengembangan edukasi. Jones juga membawahi Institute for Financial Markets yang bermarkas di Washington D.C dan sempat menjadi perancang program training dasar pertama yang menjadi standar bagi anggota bursa di seluruh Amerika.

Dokumentasi
Sepak terjang Paul Tudor Jones terekam dalam sebuah film dokumenter yang dibuat tahun 1987. Di film ini Jones digambarkan sebagai trader muda yang dapat meramal Black Monday dengan menggunakan metode yang sama dengan pemerhati pasar, Robert Prechter. Beberapa trader menyimpan video yang berdurasi selama satu jam ini sebagai media untuk mempelajari cara trading Jones. Di internet, video Jones dibanderol dengan harga $295. Menurut pihak produser Michael Glyn, tahun 1990 Jones sempat meminta agar video ini dihapus dari peredaran. Meski telah muncul di beberapa situs berbeda namun sebagian video telah ditarik karena dianggap melanggar hak cipta.

Gaya Trading
Seperti ditulis pada jurnal Market Wizards, gaya trading Jones terangkum dalam beberapa poin :

  1.  Mencoba untuk mengambil posisi berlawanan dengan bertahan dalam satu ide hingga ada perubahan fundamental. Bila tidak, ia akan memangkas posisinya dengan jumlah terkecil saat kondisi memburuk.
  2.  Jones menganggap dirinya sebagai pemberi peluang pasar utama. Saat ia menerapkan ide, ia akan melakukannya dari yang berisiko paling rendah hingga ide ini terbukti keliru atau hingga ia mengubah strateginya.
  3. Swing trader, hasil terbaik didapat saat pasar berubah haluan. Mengabaikan harga rata-rata dan memilih untuk memburu harga saat berada di level tinggi atau level rendah.
  4. Selalu berusaha membuat dirinya bahagia dan santai. Keluar dari pasar saat posisinya tidak lagi nyaman. Tidak ada yang lebih baik dari sebuah awal baru. Kuncinya adalah bertahan bukan menyerang.
  5. Mengurangi jumlah transaksi saat kurang menguntungkan dan menambahnya saat menguntungkan.
  6. Tahu kapan harus berhenti. Jika telah berada di posisi rawan, ia segera keluar dari pasar.
  7. Memonitor segala risiko portfolio ekuiti terkini
  8. Ia percaya harga berjalan lebih dulu dan diikuti oleh fundamental
  9. Segera melupakan kesalahan yang dibuatnya tiga detik lalu dan memilih untuk segera memikirkan langkah ke depan
  10. Jangan jadi pahlawan. Jangan gunakan ego. Selalu ukur kemampuan diri. Jangan pernah merasa hebat. Saat itu terjadi, maka tamat semuanya.

Sumber : Dian Mustikayani; FM Magazine 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s